Misteri Kasus Korona di Bali yang Disoroti Media Asing

JAKARTA, MONDIALNEWS – Merebaknya virus korona (Covid-19) di Bali, menjadi sorotan media asing. Pasalnya, jumlah kasus corona di Bali sejak pertama kali diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada awal Maret hingga saat ini hanya ada 38 kasus, dengan angka kematian hanya 2 pasien.

Harian Asia Times yang berbasis di Hong Kong sampai membuat laporan khusus mengenai hal itu. Dalam artikel berjudul ‘Bali’s Mysterious Immunity to Covid-19’, media tersebut menyoroti tidak adanya peningkatan kasus positif Covid-19 di Bali.

Asia Times menyoroti jumlah positif korona yang terbilang sedikit. Hal ini menimbulkan kecurigaan lantaran Bali merupakan tujuan para wisatawan mancanegara termasuk asal China.

Untuk memperkuat argumen, Asia Times mencantumkan data adanya peningkatan jumlah kedatangan wisawatan China sebanyak 3 persen pada Januari 2020. Di bulan yang sama, virus korona membuat Wuhan lumpuh.

Kasie Pencegahan dan Pengendalian Dinas Kesehatan Bali, I Wayan Sudiyasa, langsung membantah anggapan tersebut. Menurut dia, belum ada penelitian ilmiah yang mengatakan orang Bali kebal terhadap virus corona.

“Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Bali, pasien positif sudah termasuk banyak dibanding daerah lain, masuk 10 besar di nasional,” kata Sudiyasa, dikutip dari Liputan6.

Data Call Centre Penanggulangan Covid-19 Bali menunjukkan tren kasus Covid-19 di Pulau Dewata cenderung landai. Tetapi, jumlah kasus positif Covid-19 terus beranjak naik.

Per 16 April 2020, jumlah pasien positif 113 orang, 8 orang di antaranya warga negara asing. Jumlah pasien meninggal tercatat 2 orang, keduanya merupakan warga negara asing.

Data di situs pendataan.baliprov.go.id sendiri tidak ada informasi soal jumlah orang positif Covid-19 yang melakukan rapid test.

Sementara itu, pakar epidemiologi UI, Syahrizal Syarif, mengatakan tidak ada manusia di dunia ini yang kebal terhadap virus corona. Mungkin saja, katanya, kalau digunakan rapid test antigen bisa ketahuan lebih banyak yang positif virus corona.

“Kalau rapid test, bisa jadi banyak kasus asymtomatic. Tapi saya tak mau berspekulasi tanpa data,” kata Syahrizal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *